CINTA DAN KASIH
IBU KU MALAIKAT KU
Hey ibu jasa dan baktimu terlalu besar
untuk ku, saya sangat bersyukur bisa memiliki ibu sepertimu. Terlalu besar
kasih sayang mu yang engkau berikan sampai saya tidak tau harus membalas dengan
cara apa. Andaikan aku tau cara membalas jasamu pasti akan ku balas secepat dan
semampu diriku, akan ku lakukan apapun untuk dirimu. Ingin sekali diriku selalu
merasakan pelukanmu disetiap tahun, bulan, minggu, hari, jam, menit, detik, dan
sampai ajalku tiba aku ingin tetap berada dipelukanmu.
Suatu hari
saya dan ibu bercakap-cakap “apakah ibu sudah makan ?” ibu pun membalas “saya
belum makan, saya hanya ingin membuatkan makan buat dirimu nak” saya pun
terdiam dan merenung, dia rela menahan lapar demi menyediakan makan untuk
anak-anaknya. Terlalu besar jasamu sampai-sampai saya tidak bisa berkata-kata,
saya terlalu bangga memiliki ibu sepertimu. Saya terlalu bersyukur dan bangga
memiliki ibu sepertinya. Ingin ku dekat selalu saat aku merasa sedih maupun
senang, saya merasa lemah sekali dihadapannya yang belum bisa mebanggakan
dirinya. Saya banyak banyak terimakasih kedapanya.
Suatu hari
dia berkata “apakah dirimu mau menemani ibumu ini?” saya pun menjawab
pertanyaannya dengan sedih hati karena saya sudah ada janji dengan teman dekat
saya dan saya pun menjawab pertanyaannya itu “maaf ibu saya tidak bisa menamani
ibu karena saya ada janji dengan teman saya” dan ibu pun menjawab “yasudah
tidak apa apa pergi saja dengan temanmu hati-hati ya” saya pun terdiam dan
merenung, kenapa saya tidak menemaninya padahal dia selalu menemani saya
dimanapun saya berada dimana ada kesusahan walaupun dalam kondisi apapun. Sampai
saat ini pun saya belum bisa mengasih yang berharga untuknya.
Pernah ada orang yang
mengumpamakan kasih ibu bagaikan tanaman bunga ditepi jalan, tiada orang yang peduli,
tiada orang yang merawat, tiada orang yang memberi perhatian, namun tak peduli
dalam cuaca bertopan, hujan deras atau hawa dingin membeku, asalkan ada sedikit
sinar mentari dan embun ujan, dia akan tetap tumbuh dan berbunga lebat. Kasih sayangnya
besar sekali untukku.
Kasih ibu
adalah sedemikian besar dan tanpa pamrih, bagaikan sumber air yang terus
mengalir deras tanpa pernah berhenti. Akan tetapi, bilakah kita sebagai anak
dapat benar-benar memahami akan isi hati ibu?
Pohon ingin
tetap tenang, namun angin terus berhembus; anak ingin berbakti, namun orang tua
sudah tiada” ,pastikan penyesalan seperti ini jangan sampai terjadi dalam
kehidupan kita ini. Kita harus tahu bahwa ketika kita membuka pintu rumah dan
memanggil “ibu”, masih ada orang-orang yang menyahut adalah salah satu hal yang
sangat membahagiakan. Maka dari itu kita harus bersyukur selagi ibu masih ada.
Suatu saat saya akan membanggakan
ibu saya dengan semampu dan sekuat saya, saya terlalu banyak menyusahkannya. Banyak
sekali perbuatan atau perkataan saya yang membuat ibu sakit hati akan tetapi
dia selalu menyembunyikannya, saya sudah terlalu banyak merepotkannya.
Dan suatu
hari saat saya pulang sekolah ibu pernah berkata “nak, gimana disekolah tadi ?
baik baik saja kan ?” saya menjawab dengan nada tinggi karena saya lelah “baik
ko mah, tenang aja kenapa” disitu saya berpikir kenapa saya harus begitu,
padahal ibu saya tidak pernah seperti itu. Saya terlalu banyak salah dengannya,
dia terlalu baik sekali dengan saya.
Seperti udara
kasih ibu yang diberikan tak mampu aku membalas, ingin sekali ku dekat dan
menangis dipangkuannya sampai aku tertidur bagai masa kecil dulu dan doa doanya
selalu melumuri tubuhku, siang dan malam dia selalu berdoa agar anaknya tidak
kenapa kenapa.
Saya selalu
berharap sampai saya besar nanti dan sukses saya bisa membanggakan ibu saya,
saya ingin melihat ibu disurga nanti, saya hanyalah manusia yang ingin selalu
merasakan kasih sayang ibu yang besar itu sepanjang waktu. Mulai dari lahir
sampai sekarang ibu selalu sabar dalam mendidik diriku, mulai dari menyusui,
menggendong, dan selalu banting tulang untuk anaknya.
Cinta dan kasih sayang ibu selalu
saja membuat kita merasakan kehangatan dan kenyamanan disetiap langkah kaki
kita, ibu berapa besar jasamu yang kau
korbankan untukku anakmu, saya selalu merasa saya belum bisa membanggakan
dirimu. Saya selalu ingin didekatmu, sampai saya seperti ini saya masih saja
mengharapkan kasih sayangmu itu.
Engkau selalu
mengajarkan aku untuk selalu ingat pada Tuhan, agar dapat bisa menahan diri
dari perlakuan jelek atau hal hal buruk lainnya dan agar dapat bisa bertemu
disurga kelak dengannya. Diriku selalu saja merasa kurang didepannya, terlalu
banyak kasih sayangnya yang diberikannya kepadaku.
Setiap dia
marah kita selalu saja membantah padahal dia marah juga untuk kebaikan kita,
dia khawatir akan kondisi kita, dia selalu mempehatikan kita dimanapun kita
berada, terlalu sabar dia dalam mendidik kita.
Cinta kasih
harus dirasakan dengan kesungguhan hati, ketika kita membantah kedua orang tua kita,
mengapa kita tidak menyadari kalau sepatah perkataan penuh emosi kita telah pun
menyebabkan luka mendalam di dalam hati ayah dan ibu. Ketika ayah dan ibu sedang
memberi bimbingan kepada kita, apakah kita dapat menyadari betapa besarnya hati
kasih orang tua kepada anak? Atau kita hanya menganggap ayah dan ibu tidak senang
melihat kita dan selalu mencari masalah pada diri kita.
Dan mengapa
anak setiap dimarahi ibunya sang anak malah berfikiran bahwa anak itu tidak
sayang lagi kepadanya, padahal sang ibu hanya khawatir kepadanya sampai
memarahinya dan memarahinya juga untuk kebaikan sang anak, tetapi sang anak pun
tidak mau mengerti.
Ingin sekali diriku melihat
kebahagiaan disetiap langkah kaki ibuku, jasanya terlalu besar untukku, dia seperti
malaikat tak bersayap yang dikirim Tuhan untuk selalu menjaga dan merawatku,
dia tidak pernah lelah dalam mendidik anak-anaknya yang suka membantah atau
tidak mendengar omongannya.
Ibu ingin
sekali aku melihat dirimu selalu tersenyum, selalu merasakan kebahagiaan
dihidupmu, dan ingin sekali aku melihatmu tidak ada masalah walau kita sebagai
manusia pasti mempunyai kesalahan.
Ketika dia
harus menahan perhatian dan kasih dalam hatinya kepada anak, harus berusaha
keras untuk memperlihatkan wajah dingin kepada anaknya, saya sungguh sulit
membayangkan, betapa menderitanya perasaan ibu ketikan itu, namun demi
perkembangan anak yang lebih baik dan kehidupan anak yang lebih berbahagia
dimasa mendatang, ibu rela menerima segala kesedihan, bahkan tidak menyesal
untuk membiarkan sang anak salah paham terhadapnya.
DAN SAYA
SANGAT BERTERIMAKASIH KEPADA AYAH DAN IBU SAYA, SAYA BUKAN APA APA TANPA MERAKA
BAHKAN SAYA TIDAK BISA ADA DIDUNIA INI TANPA MEREKA, DAN SANG IBU BAGAIKAN
MALAIKAT.
Komentar
Posting Komentar