BUDAYA DAN EKONOMI DI INDONESIA TENTANG POLA HIDUP

Indonesia merupakan negara berbudaya timur yang memiliki banyak ciri khas tersendiri. Meski begitu, Indonesia masih relatif mudah mendapat dampak globalisasi, baik dampak positif maupun dampak negatif. Budaya barat yang dewasa ini gencar memasuki negara-negara berbudaya timur, termasuk Indonesia, seringkali menetap lama dan pada akhirnya bercampur menjadi bagian dari budaya timur itu sendiri. Hal ini dikarenakan filter dari masing-masing individu masyarakat Indonesia yang kurang dipergunakan dengan maksimal, sehingga mereka menerima budaya-budaya barat tersebut secara mentah. Padahal, belum tentu budaya barat yang dianggap modern itu sesuai dengan etika maupun norma yang berlaku di Indonesia.
Salah satu budaya yang secara turun-temurun dan secara tidak sadar bertahan di Indonesia adalah budaya konsumtif. Memang budaya ini tidak bisa dikatakan dimiliki oleh setiap warga negara Indonesia, tetapi setidaknya mayoritas masyarakat yang tergolong madani dan bermukim di kawasan perkotaan berperilaku demikian. Dari segi peningkatan pelakunya, golongan usia remaja dan dewasa muda (siswa-siswi SMA / sederajat, mahasiswa-masasiswi, dan pria/wanita berusia hingga 40 tahun) merupakan golongan usia yang paling cepat menyerap budaya konsumtif. Pola konsumsi seperti ini terjadi pada hampir semua lapisan masyarakat, meskipun dengan kadar yang berbeda-beda. Remaja merupakan salah satu contoh yang paling mudah terpengaruh dengan pola konsumsi yang berlebihan (Loudon & Bitta, 1993).
Dinamika masyarakat yang terjadi semenjak era orde lama, orde baru, reformasi, hingga sekarang cukup memengaruhi sifat dan karakteristik masyarakat. Faktor yang memengaruhinya juga beragam, bisa dari segi perkembangan zaman secara global, keadaan bangsa (kekuasaan pemerintah, dsb), hingga keadaan alam pada saat itu. Yang paling terlihat di era globalisasi ini adalah bagaimana mudahnya bangsa kita menyerap perilaku konsumtif dari bangsa-bangsa lain. Proses penyerapan perilaku ini bisa dipermudah dengan banyaknya media global yang ‘menyerbu’, seperti film, acara televisi, buku, majalah, internet, dan sebagainya. Keinginan seseorang untuk tampil sama dengan apa yang ia lihat di media tersebut mendorong sifat konsumtifnya, sehingga meski kondisi perekonomian sebagian besar masyarakat Indonesia hingga saat ini belum bisa disebut mapan, orang-orang yang memiliki sifat konsumtif tetap membeli apapun yang ia inginkan tanpa memerhatikan kondisi keuangannya.
Budaya konsumtif yang mendarah daging khususnya di Indonesia pada saat ini bisa jadi merupakan dampak jangka panjang dari kebiasaan-kebiasaan hedonistik yang dimiliki oleh generasi sebelum kita, atau mungkin juga terjadi akibat kurangnya rasa peduli sebagian besar masyarakat terhadap akibat negatif yang ditimbulkan dari budaya tersebut. Dampak negatif dari mendarah dagingnya budaya konsumtif bisa dikatakan bercabang dan ikut mempengaruhi aspek-aspek lain dalam kehidupan masyarakat.
Sebagai gambaran, jika seorang remaja telah memiliki tabiat konsumtif, maka ia akan terus menerus berkeinginan untuk membeli barang-barang yang ia inginkan. Untuk memenuhi keinginannya, orang tua harus mengeluarkan biaya ekstra yang tidak sedikit. Biaya ekstra ini berdampak pada kalkulasi pengeluaran bulanan sang ibu yang sebenarnya telah diperhitungkan sejak jauh hari. Bisa jadi, kebutuhan pokok mereka malah tidak terpenuhi. Akibatnya sang ayah pun harus bekerja lebih keras dalam mencari nafkah. Bahkan tak jarang ibu terpaksa ikut bekerja sampingan demi memenuhi kebutuhan pokok. Karena pekerjaan ibu yang menyita waktu, urusan rumah pun jadi tidak terpegang sehingga ayah dan anak-anaknya sering kali pulang dengan disambut oleh keadaan rumah yang tidak nyaman. Kehadiran ibu yang biasanya selalu siap mendengarkan cerita keseharian suami dan anak-anaknya pun dirindukan karena sang ibu terlalu lelah setelah seharian bekerja. Keharmonisan rumah tangga berkurang, dan pada akhirnya masalah-masalah lain bermunculan. Akar dari semua permasalahan tersebut hanya satu : sifat konsumtif.
Hubungan antara perilaku konsumtif yang membudaya dan dampaknya terhadap perekonomian merupakan hubungan yang saling mempengaruhi. Budaya konsumtif dalam suatu masyarakat dapat menjadi penyebab perekonomian masyarakat tersebut memburuk, dan sebaliknya, perekonomian yang baik (atau bahkan sangat baik) di kalangan menengah ke atas dapat memicu perilaku konsumtif dalam kelompok masyarakat tersebut.
Dan pola hidup dijaman sekarang ini dan akan dimasa mendatang akan berubah-ubah, dan pola hidup akan mempengaruhi ekonomi tentang jual beli pakain, peralatan rumah tangga, alat transportasi, alat komunikasi, pangan, dan sebagainya. Semakin meningkatnya barang barang tersebut akan mempengaruhi barang barang tersebut seperti harga atau yang lainnya, semakin barang itu naik semakin juga harga barang barang atau pangan tersebut semakin naik juga harganya.
Semakin meningkatnya kualitas atau perkembangan yang pesat pada barang barang atau jenis pangan yang lainnya semakin juga harga makanan itu naik dan mempengaruhi perekonomian dan kenaikan pada cara pola hidup, karena pekembangan, dan perkemaban budaya akan semakin meningkat dan melupakan budaya yang lama.
Semakin kita kemasa yang akan datang semakin banyak pula perubahan dibudaya dan meningkatnya atau menurunnya ekonomi dinegara sendiri, dan kita sebagai warga negara indonesia harus bisa menjaga dan melestarikan budaya kita sendiri walaupun sudah banyak budaya yang semakin lama semakin terlupakan.
Walaupun dengan meningkatnya teknologi atau tentang pola hidup yang lain akan memudahkan kita untuk berkomunikasi, cepatnya sampai tujuan yang ingin dituju, atau keinginan lainnya kita tetap tidak boleh melupakan budaya kita sendiri yang sudah dibangun sejak lama oleh nenek moyang kita atau orang terdahulu kita.

Cukup sekian penjelasan budaya dan ekonomi di Indonesia tentang pola hidup, Terimakasih.
Referensi : https://adlinamasyita.wordpress.com/2015/01/11/budaya-konsumtif-di-indonesia-gaya-hidup-masyarakat-global/

Komentar

Postingan populer dari blog ini

TUGAS CERITA BAHASA INGGRIS PASSIVE VOICE

TUGAS BAHASA INGGRIS PASSIVE VOICE

TUGAS SOFTSKILL 2